{"id":1417,"date":"2012-08-06T18:31:00","date_gmt":"2012-08-06T18:31:00","guid":{"rendered":"https:\/\/perkumpulanidea.org\/?p=1417"},"modified":"2024-10-13T16:19:26","modified_gmt":"2024-10-13T16:19:26","slug":"modul-03-analisis-biaya-dan-manfaat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/perkumpulanidea.org\/en\/2012\/08\/06\/modul-03-analisis-biaya-dan-manfaat\/","title":{"rendered":"Module 03: Cost and Benefit Analysis"},"content":{"rendered":"<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Disaster Risk Reduction Governance Module Series<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Disasters, whether natural or man-made, are inseparable from the systems on earth. In the past decade, there have been many disasters that have resulted in the loss of life and livelihood assets in various parts of the world, including Indonesia. Disaster management in Indonesia has experienced significant dynamics and developments.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">The paradigm shift in disaster management is reflected in the birth of Law No. 24 of 2007 concerning Disaster Management. The responsive paradigm (working when a disaster occurs) has changed to a disaster risk reduction paradigm with integrated efforts in all phases. These phases include before a disaster occurs, during a disaster occurs, and after a disaster occurs. The disaster risk management approach is applied where the phase before a disaster occurs has a larger portion for disaster risk reduction efforts.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Development and disasters are inseparable. Disaster risk reduction is an important part of realizing sustainable development. Disasters have occurred one after another in the past 10 years, hitting the Indonesian nation. Starting from the earthquake and tsunami in Aceh in 2004, the earthquake in Yogyakarta and Central Java in 2006, the flood in Wasior in 2010, the earthquake and tsunami in Mentawai in 2010, and the eruption of Merapi in 2010. All of these resulted in property losses, loss of life, infrastructure damage, psychological disorders, and loss of livelihood. All of these impacts of losses bring about changes in attitudes, perspectives, and change policies to ensure better livelihoods and lives.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seri Modul Tata Kelola Pengurangan Risiko Bencana Bencana, baik yang terjadi secara alamiah ataupun akibat ulah manusia, tidak terpisahkan dari sistem yang ada di muka bumi. Dalam 1 (satu) dasawarsa ini telah terjadi banyak bencana yang mengakibatkan hilangnya aset-aset kehidupan dan penghidupan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Penanggulangan bencana di Indonesia telah mengalami dinamika dan perkembangan yang bermakna.&nbsp; Perubahan paradigma penanggulangan bencana tercermin dengan lahirnya Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Paradigma responsif (bekerja pada saat bencana terjadi) telah berubah menjadi paradigma pengurangan risiko bencana dengan upaya-upaya yang terintegrasi pada semua fase. Fase-fase ini mencakup sebelum terjadi bencana, saat terjadi bencana, maupun saat sesudah terjadi bencana. Pendekatan manajemen risiko bencana diterapkan di mana fase sebelum terjadi bencana memiliki porsi yang lebih besar untuk upaya-upaya pengurangan risiko bencana. Pembangunan dan bencana tidak akan terpisahkan satu sama lain. Pengurangan risiko bencana menjadi bagian penting dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Bencana silih berganti terjadi dalam kurun waktu 10 tahun ini menerpa Bangsa Indonesia.&nbsp; Mulai dari gempa dan tsunami di Aceh pada tahun 2004, gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah pada tahun 2006, banjir di Wasior tahun 2010, gempa bumi dan tsunami di Mentawai 2010, dan erupsi Merapi tahun 2010. Semua itu mengakibatkan kerugian harta benda, korban jiwa, rusaknya infrastruktur, gangguan psikologis, serta hilangnya penghidupan. Segala dampak kerugian ini membawa perubahan-perubahan sikap, cara pandang, dan mengubah kebijakan-kebijakan untuk menjamin penghidupan dan kehidupan ke arah yang lebih baik.<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":1418,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"elementor_theme","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[72,104,105,106],"class_list":["post-1417","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized","tag-anggaran","tag-bencana","tag-buku","tag-partisipasi"],"amp_enabled":false,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/perkumpulanidea.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1417","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/perkumpulanidea.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/perkumpulanidea.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perkumpulanidea.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perkumpulanidea.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1417"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/perkumpulanidea.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1417\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1419,"href":"https:\/\/perkumpulanidea.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1417\/revisions\/1419"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/perkumpulanidea.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1418"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/perkumpulanidea.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1417"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/perkumpulanidea.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1417"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/perkumpulanidea.org\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1417"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}