Lompat ke konten utama

Perkumpulan Idea

Pelaksanaan sekaligus pembukaan sekolah hijau di Teras IDEA, Jumat (05/12).

IDEA Luncurkan Sekolah Hijau untuk Menguatkan Literasi dan Aksi Transisi Energi di Tengah Krisis Iklim

Dalam upaya meningkatkan partisipasi siswa dalam aktivisme iklim dan meningkatkan kesadaran lingkungan, IDEA meluncurkan program Sekolah Hijau bertajuk “Literasi Iklim, Aksi Berkelanjutan” pada Jumat, (05/12), secara hybrid melalui zoom meeting dan di Teras IDEA. Peserta sekolah yang terdiri dari mahasiswa, peneliti, dan jejaring masyarakat sipil berkumpul dalam kegiatan ini untuk membahas tantangan iklim terkini di tingkat global, khususnya di Indonesia.

Menurut direktur eksekutif IDEA Ahmad Hedar, program ini menggunakan pendekatan sistematis dan praktis untuk mengajarkan literasi iklim. Tujuan program ini adalah membantu generasi muda memahami tantangan lingkungan sebagai isu sosial, politik, dan ekonomi. “Kami merancang program ini agar generasi muda memahami krisis iklim secara langsung dan siap mengambil tindakan dalam melakukan gerakan aksi iklim,” tuturnya.

Yanuardi, ketua pengurus IDEA dan peneliti di Universitas Utrecht, yang menjadi narasumber memberikan beberapa point kunci dalam series 1 sekolah hijau. Ia menjelaskan bahwa bencana iklim dipengaruhi oleh aktivitas manusia selama puluhan tahun, sehingga tidak dapat dianggap sebagai kejadian alamiah. Ia menggunakan pertumbuhan populasi, perluasan industri, dan “Great Acceleration” perubahan lingkungan yang terjadi setelah tahun 1950-an untuk menekankan poin ini.

Data dari sesi tersebut menunjukkan bahwa setelah tahun 1950, terjadi pertumbuhan signifikan dalam populasi dunia dan aktivitas ekonomi, yang diikuti oleh deforestasi besar-besaran, pertanian intensif, dan urbanisasi. Pada tahun 1950-an, hutan masih mendominasi Kalimantan dan Sumatra, tetapi pada tahun 2000-an, sebagian besar tutupan hutan di kawasan tersebut telah diubah untuk industri dan ekstraksi. enurut peta historis dari World Conservation Foundation (WCF) yang dikutip dalam sesi tersebut. Yanuardi menekankan bahwa bencana iklim bukanlah kecelakaan, melainkan hasil dari keputusan manusia.

Fenomena tersebut disebut poly crisis dimana masalah sosial, politik, dan ekonomi bercampur dengan degradasi lingkungan, semakin parah akibat pergeseran ke arah ekstraksi. Yanuardi Memberikan contoh dari berbagai wilayah di Indonesia, khususnya di daerah yang baru saja mengalami bencana iklim besar, yaitu di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Meskipun beberapa laporan pemerintah menyebutkan tingginya curah hujan di 3 provinsi tersebut menjadi penyebab banjir bandang, namun menurut Yanuardi, ada faktor perubahan lahan jangka panjang dan perencanaan lingkungan yang buruk. “Kita harus mengakui bahwa tragedi-tragedi ini tidak terjadi dalam semalam,” ujarnya.

Selain di Sumatera, Jawa juga mengalami dampak poly crysis, karena efek perubahan iklim semakin parah. Gelombang pasang, kekeringan yang semakin parah, dan kenaikan permukaan laut kini mengancam kehidupan pesisir dan pertanian. Salah satu peserta bernama Gandisa menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur dan kawasan industri di Jawa Utara, terutama Semarang dan Kendal, tidak sejalan dengan sistem lingkungan pesisir, sehingga berisiko memperburuk kerusakan ekologi. Ia juga menyampaikan bahwa pembangunan di kota besar Semarang justru berdampak terhadap kawasan penyangganya. “Dari hasil penelitian saya di pesisir Jawa Tengah, menunjukkan bahwa proyek industrialisasi di Semarang menimbulkan efek domino, di mana dampak sosial-ekologisnya justru lebih banyak dirasakan oleh daerah penyangga seperti Demak dan Kenda,” tuturnya.

Peserta mengemukakan kekhawatiran mengenai efektivitas alat perlindungan lingkungan seperti AMDAL (Analisis Dampak Lingkungan). Menurut studi lapangan yang dipaparkan dalam acara tersebut, AMDAL sering digunakan sebagai persyaratan prosedural untuk melegitimasi pembangunan, bahkan ketika proyek-proyek tersebut mengancam kondisi ekologi. Yanuardi menambahkan,Jika alat-alat lingkungan disalahgunakan, mereka berisiko melegitimasi kerusakan daripada menghentikannya.

Krisis iklim juga memiliki dampak yang signifikan terhadap kelompok rentan. Yanuardi menyatakan bahwa karena mereka kekurangan sumber daya untuk keselamatan, orang dengan disabilitas, perempuan, anak-anak, petani, komunitas pesisir, dan lansia lebih terdampak. Kelompok yang lebih kaya, di sisi lain, memiliki opsi untuk pindah atau menerapkan strategi mitigasi yang lebih baik. Banyak yang terpaksa pindah ke permukiman kumuh perkotaan, di mana mereka tetap rentan terhadap banjir dan kondisi hidup yang buruk, akibat gangguan pada mata pencaharian mereka, seperti petani yang kehilangan musim tanam atau nelayan yang mengalami penurunan hasil tangkapan.

Upaya mitigasi pemerintah juga seringkali justru mengarah ke arah solusi maladaptasi, yang justru menimbulkan kerusakan lebih besar. Contohnya adalah pembangunan tembok laut yang memperparah erosi di kawasan pesisir tetangga atau operasi reklamasi yang memperburuk banjir. Yanuardi menekankan bahwa batas-batas ekologi, bukan kepentingan korporasi atau batas-batas politik, harus menjadi landasan solusi iklim.

Akan ada lima series sekolah hijau hingga Januari 2026. Ahli dari lembaga akademik dan organisasi masyarakat sipil akan membahas berbagai aspek literasi iklim, tata kelola lingkungan, dan tindakan berkelanjutan dalam setiap seri. IDEA mengharapkan program ini akan meningkatkan partisipasi pemuda dalam pengambilan keputusan lingkungan dan mendorong inisiatif berbasis komunitas untuk meningkatkan ketahanan iklim.

Oleh: Darboe Sarjo (Volunteer IDEA, mahasiswa Administrasi Publik asal Gambia Afrika Barat)

id_IDBahasa Indonesia